Apakah Saudara Sepupu, Ipar dan Paman Termasuk Mahram Atau Bukan?

Penting bagi setiap muslim untuk tahu siapa-siapa saja mahram kita dan siapa yang bukan. Sehingga kita bisa menjaga diri dan membuat batasan dalam berinteraksi. Termasuk pada kerabat dekat sendiri. Polemik masalah mahram dalam masyarakat menjadi isu yang sangat sensitif. Terlebih lagi saat momen lebaran dimana keluarga besar kita berkumpul ketika mudik. Kadang kita tidak tahu ada saudara yang jarang ketemu, bagaimana silsilah dan hubungan darah antara dia dengan kita. Karena konsekuensi dalam hubungan dengan non mahram adalah selain haram terjadinya pernikahan, juga tidak dibolehkan terlihatnya sebagian aurat, berkhalwat (berduaan), sentuhan kulit (termasuk salaman), berpergian dan lainnya.

“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani)

Seringnya yang terjadi seorang menggampangkan masalah ini. Dibilangnya, “Masa nggak mau salaman sama dia? Itukan saudaramu juga”. Sepupu sudah dianggap saudara kandung sendiri, dianggap seperti mahram. Mentang-mentang saudara, mentang-mentang udah akrab dari kecil, jadi mahram. Ini adalah hal yang lumrah kita saksikan di kalangan masyarakat yang belum faham. Bahkan karena dianggap terlalu akrab, masuk ke rumah orang tidak salam, langsung masuk bahkan masuk ke kamar orang. Yang kadang-kadang subhanallah, mungkin orang itu sedang tidak menutup auratnya. Pernah mengalami kaya gini kan?

Saudara Sepupu

Saudara Sepupu dalam kamus besar bahasa Indonesia ( KBBI) berarti hubungan kekerabatan antara anak-anak dari  dua orang bersaudara; atau saudara senenek. Atau hubungan kekerabatan antara anak-anak dari dua orang bersaudara atau saudara senenek/ sekakek. Atau  juga anak dari saudara perempuan ayah/ ibu dan anak dr saudara laki-laki ayah/ ibu.

Contoh : Amin dan Fahri bersaudara (kandung, seayah atau seibu). Amin memiliki anak bernama Zuhri dan Fahri memiliki anak bernama Ani, maka hubungan Zuhri dan Ani adalah saudara sepupu. Jadi, secara ringkas pengertian saudara sepupu adalah saudara senenek dan sekakek, atau saudara hanya sekakek dan atau hanya senenek.

Apakah saudara sepupu itu mahram? Mahram adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi. Dan dalam Islam, Saudara Sepupu itu BUKAN MAHRAM. Karenanya, sepupu boleh untuk dinikahi. Untuk melihat apakah status saudara/i sepupu apakah mahram atau tidak, perlu diketahui bahwa ada dua jenis kemahraman. Pertama, kemahraman yang bersifat abadi dan tidak pernah berubah. Kedua, kemahraman yang bersifat sementara, bisa berubah menjadi tidak mahram.

Jenis yang pertama, yaitu yang kemahraman yang bersifat abadi bisa terjadi karena tiga hal. Yaitu hubungan nasab, hubungan karena pernikahan dan persusuan. Ikatan dengan saudara sepupu adalah dari jalur nasab (hubungan darah). Sudah jelas ditulis dalam Alquran tentang dibolehkannya menikah dengan saudara sepupu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “……dan demikian pula (dihalalkan menikahi) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu…” (QS. Al-Ahzab: 50)

Mengingat saudara/i sepupu itu bukan mahram dan boleh untuk dinikahi, maka seorang laki-laki ataupun perempuan tidak boleh membuka/memperlihatkan auratnya didepan saudara/i sepupunya. Begitu juga tidak boleh membiarkan anak-anak sepupu yang beda jenis kelamin untuk ber-dua-an karena mereka –sekali lagi- bukan mahram dan boleh menikah. Dalam Islam, posisi sepupu sama seperti ajnabi / orang asing bagi saudara sepupu lainnya.

Saudara Ipar

Di luar istilah mahram muabbad, ada istilah lain lagi, yaitu mahram muaqqat. Mahram jenis ini punya konsekuensi hukum terbatas, yaitu sekedar tidak boleh terjadinya pernikahan. Nah, saudara ipar termasuk kelompok yang kedua ini, yaitu haram dinikahi sementara. Tapi mahram disini bersifat khusus, karena tetap berlaku larangan-larangan yang ditetapkan pada non mahram. Seperti misalnya haram berduaan dengan Ipar, bersentuhan, bersalaman, menampakkan aurat dan seterusnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi peringatan: “Jangan kamu sekalian masuk ke dalam (ruang) wanita. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara ipar?”. Rasulullah menjawab, “Saudara ipar adalah kebinasaan (banyak terjadi zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (HR. Ahmad)

Saudara ipar termasuk orang yang haram dinikahi dengan dalil firman Allah: “Dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” (QS An-Nisa: 23). Ayat ini menjelaskan haramnya seorang laki-laki menikahi dua orang wanita kakak beradik dalam satu kurun waktu yang sama. Bila sudah menikahi kakaknya, maka haram menikahi lagi adiknya. Begitu juga sebaliknya, bila sudah menikahi adiknya, maka haram disaat yang sama menikahi kakaknya.

Jadi saudara ipar itu termasuk mahram muaqqat (sementara), yaitu haram dinikahi selama saudarinya masih berstatus isteri. Bila saudarinya itu sudah bukan lagi menjadi isteri, mungkin karena meninggal atau cerai, maka status mahramnya hilang dan ia boleh dinikahi.

Bagaimana Dengan Paman?

Ketika menyebut paman, maka ada dua sosok yang berasal dari ikatan kekerabatan yang berbeda. Paman yang pertama berasal dari ikatan nasab (hubungan darah) melalui jalur orang tua kandung kita. Yaitu paman yang merupakan kakak atau adik kandung dari ayah atau ibu kita.

Yang kedua adalah paman yang berasal dari ikatan pernikahan. Yaitu paman yang merupakan lelaki yang dinikahi oleh bibi kandung kita alias suaminya. Bibi kandung disini maksudnya adalah kakak atau adik kandung dari ayah atau ibu kita. Sampai disini paham kan bedanya? Nah, karena berbeda asal ikatan kekerabatannya, maka berbeda pula hukum mahramnya. Jadi jangan keliru menyamaratakan mentang-mentang sama-sama paman.

Paman yang pertama, hukumnya adalah mahram. Dibolehkan bersalaman, bepergian dan tidak berjilbab di depannya. Sedangkan paman yang kedua bukanlah mahram. Tidak boleh bersentuhan/bersalaman, dan tidak boleh membuka jilbab atau menampakkan aurat di hadapannya.

Lalu Bagaimana Harus Bersikap?

Sebagai seorang muslimah yang berakhlak, tetaplah berlaku baik dan sopan dengan tetap menjaga batasan-batasan perilaku dan aurat. Dan sebaiknya kamu tidak berdandan atau bersolek di hadapan orang lain. Selain itu jangan membukakan pintu rumah kepada seorang laki-laki kecuali ada suami di rumahnya. Dan yang terakhir berkomunikasilah dengan cara yang baik sehingga tidak membuat orang lain tersinggung hatinya yang bisa mengakibatkan rusaknya hubungan silaturahim antar kerabat.

4 thoughts on “Apakah Saudara Sepupu, Ipar dan Paman Termasuk Mahram Atau Bukan?”

  1. Assalamualaikum
    Mas ini saya punya kakak laki” yg suka dengan anak perempuan dari adik laki” ayah apakah mahram hukumnya, terimakasih sebelumnya..

  2. Assalamualaikum saya mau nanya apakah hubungan antara adik ipar sepupu dari Abang ipar dengan adik kandung dari KK kandung boleh menikah??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *