(CERPEN) Resolusi 2018, Semoga Segera Dipertemukan dengan Jodoh Terbaik Dari-Nya

Pagi itu, matahari memancarkan sinar yang sepertinya sama dengan sebelumnya. Namun orang menamai matahari itu sebagai pertanda harapan baru yang telah dimulai, sebab riuh pikuk kembang api tadi malam telah mengakhiri tahun yang sebelumnya.

Ya, sama seperti mereka yang di setiap tahunnya memanjatkan doa yang isinya tak lain adalah harapan. Aku tak tahu harapan mereka, mereka pun mungkin tak ingin tau dengan harapanku.

Kulihat tetanggaku yang sedang menyiram bunga. Tampak wajahnya berseri bagai bunga yang sedang disiramnya. Bertepatan bunga yang ia siram sedang berbunga. Wah, pasti dia juga punya harapan hari ini, gumamku dalam hati.

Aku beranjak dari pagi itu, aku menemui kedua orangtua dan kakek nenek yang sudah ada di depan meja makan menungguku.

Tampaknya mereka sudah lapar dari tadi, hanya saja aku adalah permaisuri yang tidak bisa mereka lewatkan ketika makan.

Maklum saja, dari 7 bersaudara, aku adalah satu-satunya anak perempuan ayah dan ibu. Mereka tampak senyum sumringah melihatku yang menghampiri mereka ke meja makan.

Jangan tanyakan keenam saudaraku lainnya, mereka semua menghabiskan studi di pesantren pilihan ayah dan ibu, tak ketinggalan juga kakek dan nenek.

Makan pagi itu tak jauh berbeda dengan makan pagi di tahun sebelumnya, hanya saja kurasa aku makin menua. Jika aku menua, bagaimana pula dengan kakek dan nenek yang pasti semakin menua, pikirku.

Saat makan hampir usai, ibu mengusik jari tanganku seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti yang sudah kuduga, ibu membisikkan sesuatu ke telingaku,

“Temui ibu di balkon lantai 2 sebentar lagi, ya,” ujar ibu. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung menganggukkan kepala menandakan aku akan menemui ibu seperti apa yang dimintanya.

Berselang sekitar 15 menit, aku pun menemui ibu di balkon yang ia janjikan. Ya, suasana yang enak untuk memulai bincang pada hari itu.

Ibu memulai pembicaraan, “Sonia, ibu mewakili Abi, dan Kakek Nenek ingin bertanya pasal pasangan hidup kamu,” ujar ibu.

Wah, sungguh pertanyaan yang tak kuduga muncul di bibir ibuku. Bingung aku mau menjawabnya. Aku tahu tipe-tipe keluarga ibu dan ayah yang memang anti pacaran, merestui nikah muda, menyukai seorang yang religius.

Sekarang usiaku sudah menginjak 21 tahun yang akan genap pada awal Februari nanti. Usia yang di televisi, BKKBN mengatakan usia ideal menikah bagi seorang wanita.

Jantungku pun tak bisa menyembunyikan debarnya. Sungguh pertanyaan yang menaikkan tekanan darahku. Tanpa pikir panjang pula, aku menjawab pertanyaan ibu,

“Ya, Ibu. InsyaAllah, Sonia akan berusaha temukan jodoh Sonia, Ibu.” Perkataan itu kemudian kutambahi dengan lontaran senyuman di bibir mungilku yang katanya terbelah itu.

Tak berapa lama kemudian, ibu pun beranjak dengan meninggalkan senyuman padaku. Aku tahu senyuman itu butuh jawaban dan kepastian. Otakku pun berpikir dalam hal tabu.

Kuambil ponselku dan langsung aku menuju instagram. Seperti biasa, aku sudah follow semua akun tentang “muslimah”. Apalagi mengenai pernikahan, aku juga sudah banyak mencari tahu.

Namun apalah dayaku, doaku padaNya meminta agar si fulan yang menjadi jodohku segera mendekat belum terjawab. Karena jujur sampai sekarang aku masih bingung harus memulai darimana.

Aku hanya bisa berdoa, dan mungkin bisa scroll status para jomblo lelaki tanpa terlalu memperhatikan foto tampannya, karena nanti takut jadi dosa. Bahkan kejombloan lelaki yang aku lihat itu pun belum pasti.

Entahlah inilah hidupku. Menuanya umur, menuntutku agar lebih dewasa dan berpikir dewasa, ya, termasuk soal pasangan hidup yang mengarah pada pernikahan. Hubungan halal atas nama Tuhan, dan resmi di hadapan banyak orang.

Balkon nyaman itu pun menjadi saksi bisu kebisuan hatiku dalam menanggapi perihal jodoh. Mungkin kalau ditanya pasal jodoh lagi, aku hanya bisa menunduk dan menadahkan kedua tanganku kepada Ilahi. Kiranya jawaban hanyalah ada padaNya.

Dan satu lagi, jika ditanya harapan yang aku semai di awal Januari alias awal tahun 2018, sekaligus harapan berisi target di tahun ini adalah perihal jodohku. Hanya beberapa kata yang mewakili perasaanku pasal jodoh.

Pertama, menikah bukan pasal cepat, namun tepat. Kedua, wanita baik, untuk lelaki baik. Ketiga, jodohku cerminan diriku, jadi aku harus memperbaiki diri dahulu, agar saat jodohku tercermin, ia adalah cermin kebaikan yang ada dalam diriku.

Selasa, 16 Januari 2018 11:15
Penulis: Budi Rahman – Asahan Sumatera Utara
Sumber: Vemale

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *